Tenanglah……
Jika hari ini namamu tak lagi kusebut dalam doa, itu bukan karena saya lupa melainkan karena saya belajar merelakan dengan cara paling sunyi. Ada perasaan yang tidak perlu diseret agar diakui pernah ada. Ia cukup disimpan, seperti cahaya senja yang tidak lagi terlihat, tapi tau benar bahwa ia pernah menghangatkan.
Kita pernah berganti cinta namun bukan cinta yang berhenti sebentar, bukan pula rasa yang tumbuh karena kesepian. Ia dibangun dari waktu, dari percakapan panjang yang tak selalu penting, dari diam yang tak canggung, dari rencana-rencana kecil yang kala itu terasa abadi. Kita menaruh harap dengan hati yang polos, seolah dunia tak punya cara untuk menggagalkan dua orang yang sedang yakin.Namun waktu adalah makhluk yang paling jujur sekaligus paling kejam. Ia tidak memihak siapa pun, hanya berjalan. Di tengah perjalanannya, kita perlahan berubah. Bukan karena berhenti mencinta, tetapi karena hidup menuntut arah yang berbeda. Ada jarak yang tumbuh bukan dari konflik, melainkan dari kenyataan bahwa tidak semua yang sejalan bisa tiba di tujuan yang sama.
Aku pernah berusaha menahannya. Kamu pun begitu. Kita saling menggenggam lebih erat ketika sadar bahwa sesuatu mulai menjauh. Tapi ada hal-hal yang justru semakin sakit ketika dipaksa bertahan. Seperti mengulurkan duri terlalu lama, berharap ia berubah menjadi bunga. Tenang, aku tidak menyesali apa pun. Cinta ini tidak salah. Kita pun tidak gagal. Kita hanya sampai pada batas yang tidak bisa kita lewati bersama. Dan di titik itu, melepaskan menjadi bentuk cinta yang paling dewasa. Sebab mencinta tidak selalu berarti memiliki, terkadang ia hanya ingin memastikan bahwa yang dicinta tidak kehilangan dirinya sendiri.Kini, jika aku mengingatmu, tidak lagi dengan gemetar. Yang tersisa adalah rasa hangat yang tenang seperti rumah lama yang tak lagi kutinggali, tapi masih kusyukuri karena pernah melindungiku dari hujan. Aku tidak ingin kembali, juga tidak ingin melupakan. Aku hanya ingin mengingat dengan cara yang tidak melukai.
Barangkali inilah akhir yang paling jujur untuk kita tidak bersama, tapi kita pernah saling mencintai dengan sepenuh hati yang kita punya. Dan itu cukup. Tidak semua kisah harus berakhir dengan “selamanya” untuk menjadi berarti. Ada cinta yang diukir hanya mengajarkan tentang bertahan, tentang kehilangan, dan tentang menerima. Jika suatu hari kamu bahagia dengan hidupmu yang baru, aku harap kamu tidak merasa bersalah. Dan jika aku tertawa tanpa menyebut namamu lagi, itu bukan pengkhianatan. Itu hanya tanda bahwa cinta ini telah berubah bentuk dari mana pun, menjadi mendoakan dari perpisahan. Tenanglah. Kita pernah berganti cinta. Dan beberapa hal, meski telah selesai, tidak pernah benar-benar sia-sia.